“Ya
Allah Aku Jatuh Cinta” :
Sebuah
Respon Terhadap Kesalahan Mengelola Cinta
Banyak peristiwa yang telah hadir di depan mata kita
menunjukkan bahwa telah
terjadi banyak persoalan yang terjadi karena cinta pada
lawan jenis.
Beberapa faktor penyebabnya akan saya sebutkan dalam bab
ini:
1.
Terlalu Belia Mengenal Cinta
Zaman yang luar biasa ini nampaknya mempercepat proses
remaja mengenal cinta.
Di usia mereka yang sangat belia, mereka sudah mulai
merasakan ada perasaan lain
dalam dirinya terhadap temannya yang berbeda jenis kelamin
dengan dia. Fenomena
yang terjadi menunjukkan, usia mereka yang belia tidak mampu
menandingi kedahsyatan cinta. Mereka belumlah cukup umur untuk mengelola cinta yang mereka
miliki. Akhirnya yang terjadi adalah cerita pilu tentang pacaran yang
salah jalan dan salah arah.
2.
Tidak Bisa Membedakan; Simpati, Naksir dan Cinta Sejati
Saat tertarik kepada seorang teman di usia belia, umumnya
remaja tidak bisa membedakan,
antar ketiga hal itu. Mereka dilandan kebingungan “Apakah saya sedang jatuh cinta beneran, atau hanya sekedar
naksir dan simpati saja?” Lelaki dan perempuan memiliki tingkat ketertarikan
yang berbeda. Lelaki biasanya tertarik pada aspek penampilan, seberapa tinggi kejelianmatanya menilai seorang
gadis. Sehingga bila ia tidak dibimbing hidayah, mungkin setiap
kali ada perempuan cantik, ia akan selalu bilang “Kamu
adalah cinta sejatiku.”
3.
Tidak Bisa Mengukur Kadarnya
Sebagian besar para remaja merasa seperti berada di istana
langit bila sudah
jatuh cinta. Sepertinya hatinya ingin meledak karena
bahagia. Bila tidak diwaspadai mereka akan dibutakan oleh cinta. Besarnya
cinta yang mereka rasakan menghilangkan akal sehatnya.Pikirannya kacau, dan
hatinya selalu gelisah. Mereka tidak bisa lagi membedakan apakah sebuah
tindakan disebut konyol ataukah tidak hanya demi menyenangkan hati kekasihnya.
Mereka juga tidak
bisa lagi mengukur apakah tindakannya sudah masuk kategori berlebihan ataukah
tidak. Maka
tidaklah mengherankan bila seorang perempuan yang merelakan kegadisannya
pada kekasihnya atas nama cinta.
4.
Terlalu Naif dan Polos
Wajah imut para remaja belia ini seolah mencerminkan betapa
lugu dan polosnya mereka.
Cinta yang mereka rasakan seolah adalah cinta sepenuh hati dan sepenuh cinta
yang akan
mereka rasakan selamanya. Padahal boleh jadi teman yang menjadi kekasihnya
hanya iseng
belaka. Kekasihnya ternyata sama sekali tidak menganggap itu sebuah hubungan
cinta, hanya
main-main dan pengisi waktu luang saja. Seolah sekali dia mengenal cinta, maka
itu adalah hati
yang paling tepat untuk berlabuh. Padahal usianya baru usia anak SMP.
5.
Lebih Didorong Nafsu, Bukan Cinta
Hubungan cinta di usia muda seperti orang yang haus bertemu
dengan segelas air yang segar dan menyegarkan. Di saat remaja
belia sedang mulai merintis libido, datanglah
orang yang dicintai. Kontan saja hal
ini bak orang yang sedang haus kemudian datang segelas air segar kepadanya. Sehingga tidaklah
berlebihan bila disimpulkan ketertarikan antar lawan jenis saat itu lebih didasarkan pada aspek emosi
sesaat dan bukan karena cinta.
Olah karena itu seorang remaja harus dikenalkan kepada siapa
ia seharusnya menempatkan cintanya
yang paling utama. Merujuk kepada keterangan Ibnu Qayyim,
tingkatan cinta
seorang muslim diatur
sebagai berikut:
Menurut Ibnul Qayyim, seorang ulama di abad ke-7, terdapat
enam peringkat
cinta (maratibul-mahabah), yaitu:
1. Peringkat ke-1 dan yang paling tinggi adalah tatayyum,
yang merupakan
hak Allah semata.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ
دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا
أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ
أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ(165)
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya
sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang
berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka
melihat siksa (pada hari kiamat),
bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya
mereka menyesal). (Al
Baqarah: 165)
Allah lah yang paling utama, tak ada tandingan tak ada
bandingan. Allah yang
pertama dan selalu akan menjadi yang pertama. Posisinya
tidak boleh digeser menjadi nomer dua atau bahkan tiga. Cinta kita kepadaNya
harus menjadi puncak dari segala cinta yang kita miliki.
2. Peringkat ke-2; ‘isyk yang hanya merupakan
hak Rasulullah saw. Cinta yang melahirkan
sikap hormat, patuh, ingin selalu membelanya, ingin
mengikutinya, mencontohnya, dll,
namun bukan untuk menghambakan diri kepadanya. Kita
mencintai Rasulullah
dengan segenap konsekwensinya. Kita akan dengan bangga
menjalankan sunnah-sunnahnya dan mengikuti petunjuknya dalam mengamalkan
agama ini. Kita juga akan mencintai kehidupannya yang luhur dan penuh amal
shalih. Kita rindu berjumpa dengannya karena kemulian yang ada pada diri
beliau. Namun kecintaan kita bukanlah menuntut sebuah penghambaan.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ
اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ(31)
“Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah
aku (Nabi saw) maka Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa
kalian.” (Ali Imran: 31)
3. Peringkat ke-3; syauq yaitu cinta antara
mukmin dengan mukmin lainnya. Antara suami istri, antara orang tua dan
anak, yang membuahkan rasa mawaddah wa rahmah. Seorang suami harus
mencintai istrinya dengan sepenuh hati. Demikian pula si istri harus memberi cintanya kepada suaminya.
Cinta yang tumbuh pada diri mereka akan menambah ketentraman hati dan
ketenangan jiwa. Hidup akan menjadi lengkap, karena saling mengerti dan memahami. Manakala terjadi
konflik atau perbedaan pendapat, akan mudah diselesaikan
karena aspek cinta mereka yang begitu besar.
4. Peringkat ke-4; shababah yaitu cinta sesama
muslim yang melahirkan ukhuwah Islamiyah. Cinta ini menuntut sebuah
kesabaran untuk menerima perbedaan dan melihatnya sebagai sebuah hikmah
yang berharga. Seperti kita ketahui bahwa saat ini sedikit perbedaan saja
seringkali menimbulkan perpecahan. Berbeda takbiratul ihram, berbeda gerakan shalat,
berbeda hari Idul Adha atau Idul Fitri kadang tidak disikapi secara
dewasa. Sehingga masalah pun muncul dan membuat jurang pemisah yang
teramat dalam antar pengikutnya.
5. Peringkat ke-5; ‘ithf (simpati) yang
ditujukan kepada sesama manusia. Rasa simpati ini melahirkan kecenderungan
untuk menyelamatkan manusia, termasuk pula di dalamnya adalah berdakwah. Rasa
ini seringkali muncul bila sisi kemanusiaan kita tersentuh.
6. Peringkat ke-6 adalah cinta yang paling rendah dan
sederhana, yaitu cinta atau keinginan kepada selain manusia: harta
benda. Namun keinginan ini sebatas intifa’
(pendayagunaan/pemanfaatan). Cinta jenis ini pula yang seringkali
menggelincirkan manusia. Karena sifat harta memang selalu melenakan. Namun
bila kita cerdas,,banyaknya harta benda seharusnya tidak menjadikan kita
terlena. Sebaliknya, a hanya menjadi sarana untuk meraih cinta yang
sebenarnya yaitu cinta pada Allah Ta’ala.
Lalu Bagaimana Islam Memandangnya?
Islam memandang cinta sebagai sesuatu yang biasa dan
sederhana. Islam adalah agama fitrah,
sedang cinta itu sendiri adalah fitrah kemanusiaan. Allah
telah menanamkan perasaan cinta yang
tumbuh di hati manusia. Islam tidak pula melarang seseorang
untuk dicintai dan mencintai,
bahkan Rasulullah menganjurkan agar cinta tersebut
diutarakan.
“Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah ia
memberitahu
bahwa ia mencintainya.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzy).
Seorang muslim dan muslimah tidak dilarang untuk saling
mencintai.
Mereka juga tidak dilarang untuk jatuh cinta. Hanya saja,
Islam menyediakan penyaluran
untuk itu melalui lembaga
pernikahan. Di mana sepasang manusia diberikan kebebasan untuk bercinta.


















